Rabu, 06 Oktober 2010

KH Ahmad Dahlan
Ulama Pemurni Tauhid

"Semua ibadah diharamkan kecuali ada perintah dan semua muamalah
(masalah dunia) boleh dilakukan kecuali ada larangan." Itulah
ajaran KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Bagi warga Muhammadiyah, ajaran KHA Dahlan itu, yang dikutip
Wakil Sekretaris PP Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari saat
diskusi di Republika beberapa waktu lalu, sudah seperti doktrin.
Maknanya: semua ibadah harus berdasarkan Alquran dan Hadis
(Sunnah Rasulullah saw).

Apa tidak dilakukan Nabi Muhammad tak perlu dikerjakan, misalnya
qunut pada shalat Subuh, pujian sebelum shalat, wiridan usai
shalat, dan seterusnya dan seterusnya.

Pesan itu pula yang membedakan Muhammadiyah dengan kelompok
Islam lainn, utamanya dengan kaum Nahdliyin (NU). Bagi NU,
ibadah --terutama yang sunat-- bisa saja bersandar pada para
sahabat dan ulama saleh.
Dengan perjalanan waktu dan pemahaman keagamaan yang semakin
baik, perbedaan itu menyempit. Kini menjadi lmrah orang
Muhammadiyah bershalat jamaah di masjid NU, begitu sebaliknya.

Pada awal abad 20-an, saat KHA Dahlan mendirikan Muhammadiyah,
pesan itu bagaikan petir di siang bolong. Masyarakat yang
terbiasa menjalankan tradisi keagamaan pengaruh dari budaya,
tradisi, dan agama setempat --Budha, Hindu, dan animisme--
terkaget-kaget. Mereka menganggap tradisi yang dijalankan itu
juga bagian dari ajaran agama (Islam) itu sendiri.

Doktrin KHA Dahlan dimaksudkan sebagai pelurus atau pemurnian
tauhid (agama) dari unsur-unsur tradisi keagamaan tadi. Kalangan
Muhammadiyah menyebutnya sebagai penyakit TBC (takhayul, bid'ah,
dan c/khurofat).

Untuk mendapatkan gambaran bagaimana penyakit TBC begitu mewabah
ketika itu, barangkali bisa disimak kisah berikut. Pada 1890
ibu KHA Dahlan, Nyai Abu Bakar, meninggal dunia. Menurut adat
waktu itu, setiap malam pada tujuh malam pertama kematian
dibacakan tahlil dan pada malam ketujuh diselenggarakan kenduri.

Setiap pagi selama tujuh hari itu, keluarga Kyai Abu Bakar juga
mengunjungi kuburan Nyai Abu Bakar untuk membaca tahlil. Dan
pada malam ke-40, ke-100, malam satu tahun, malam dua tahun, dan
malam ke-1000 diadakan selamatan.

Beberapa tahun setelah itu, tepatnya pada 1930-an, penyakit itu
juga belum sirna. Kondisi itu digambarkan dengan sangat baik
oleh Ir Soekarno (mantan Presiden RI), ketika ia mengirim surat
kepada Ustad A Hasan, pemimpin Persis di Bandung. Dalam surat
yang ditulis dari pengasingannya di Ende, Flores, 18 Agustus
1936, Soekarno antara lain mengatakan: "...Tetapi apa jang kita
'tjutat' dari Kalam Allah dan Sunnah Rasul itu? Bukan apinja,
bukan njalanja, bukan flamenja, tetapi abunja, debunja, asbesnja.


Abunja jang berupa tjelak mata dan sorban, abunja yang yang
mentjintai kemenjan dan tunggangan onta, abunja jang bersifat
Islam mulut dan Islam-ibadat -- zonder taqwa, abunja jang cuma
tahu batja Fatihah dan tahlil sahaja -- tetapi bukan apinja jang
menjala-njala dari udjung zaman jang satu ke udjung zaman jang
lain ..."

Penyakit TBC itu, menurut sejarawan, antara lain disebabkan oleh
dakwah Wali Songo yang belum tuntas. Sehingga, kondisi
masyarakat Islam saat itu masih seperti masyarakat Islam Mekah.
Saat berada di Mekah, Nabi Muhammad saw baru memberi pemahaman
tentang tauhid, mengenai Islam serta ajaran-ajarannya. Beliau
masih membiarkan umatnya mempraktekkan amalan-amalan lama
pengaruh dari agama dan budaya setempat.

Sebagai misal, beliau masih membiarkan sebagian sahabatnya mabuk
-mabukan, berjudi, dan seterusnya. Beliau baru meluruskan amalan
-amalan yang tak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran
Islam itu setelah berada di Madinah. Di Madinah ini pulalah
beliau mulai menegakkan hukum-hukum Islam. Berbagai praktek yang
dianggap menyimpang dari ajaran Islam beliau luruskan, bahkan
beliau terapkan pula sanksinya.

Hal yang demikian itulah yang juga dilakukan Wali Songo ketika
mengislamkan Tanah Jawa. Tugas itu bukanlah ringan, mengingat
ajaran animime, Hindu, dan Budha sudah begitu mengakar. Agar
Islam bisa diterima masyarakat, para wali bahkan terpaksa
menggunakan idiom-idiom budaya serta agama setempat.

Sebut, misalnya, penggunaan gamelan untuk mengumpulkan
masyarakat, bedug untuk menyeru orang melaksanakan shalat,
selamatan untuk memperingati orang yang meninggal dunia, dan
seterusnya dan seterusnya. Para Wali Songo belum sempat
menegakkan hukum Islam secara ketat sebagaimana dilakukan
Rasulullah saat di Madinah.

Penyakit TBC itu juga diperparah oleh kedatangan kaum penjajah.
Mereka sengaja memelihara penyakit masyarakat itu. Tujuannya,
agar umat Islam ternikabobokkan, tidak memberontak.

Menyaksikan kondisi umatnya yang seperti itu, Muhammad Darwis --
nama kecil Ahmad Dahlan sebelum menunaikan ibadah haji --
sangat gundah. Namun, jiwa perjuangan pemuda kelahiran 1868 di
Kauman, Yogyakarta, itu tidak muncul serta-merta.

Sebagaimana umumnya anak laki-laki ulama pada zaman itu,
Muhammad Darwis juga menimba ilmu ke banyak kiai. Darwis adalah
anak keempat dari tujuh bersaudara dari KH Abu Bakar dan Siti
Aminah. Ayahnya adalah imam dan khatib Masjid Besar Kraton
Ngayogyakarta.

Tercatat antara lain pemuda Darwis pernah belajar ilmu fikih
kepada KH Muhammad Shaleh, ilmu nahwu kepada KH Muhsin, ilmu
falak kepada KH Raden Dahlan, ilmu hadis kepada Kyai Mahfud dan
Sheikh Khayyat, ilmu Alquran kepada Sheikh Amin dan Sayid Bakri
Satock, dan ilmu pengobatan dan racun binatang pada Sheikh Hasan.
Bahkan, konon, ia juga pernah sekamar dengan KH Hasyim Asy'ari
(pendiri NU) ketika belajar teologi kepada Kyai Shaleh Darat di
Semarang. Guru-gurunya yang tersebut itu merupakan para ulama
ternama pada masa itu.

Pada 1890, saat berusia 22 tahun, Muhammad Darwis menunaikan
ibada haji. Ketika melaksanakan rukum Islam yang kelima inilah
ia mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan. Tak ada sumber yang
menyebutkan mengapa ia ganti nama dan kenapa ia memilih nama itu.

Yang jelas, kepergian Ahmad Dahlan melaksanakan ibadah haji itu
telah membuka matanya bahwa, bila ingin mendalami ilmu agama ya
di Tanah Suci itulah tempatnya. Pada 1903, Ahmad Dahlan yang
menikah pada usia 24 tahun itu menunaikan ibadah haji yang kedua
kalinya. Kali ini ia juga memanfaatkan kesempatan untuk
bermukim sekitar 1,5 tahun di Mekah.

Selama di Mekah, selain digunakan memperdalam ilmu --antara lain
berguru k mendirikan Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Diniyah
di rumahnya di Kauman, Yogyakarta. Madrasah ini merupakan
sekolah pertama yang dibangun dan dikelola pribumi dengan sistem
klasikal -- memakai bangku, kursi, papan tulis, dengan guru
berdiri di depan kelas. Sebelumnya, pendidikan dan pengajaran
dilakukan dengan sistem sorogan dan halaqah -- murid
mengelilingi guru dengan duduk di lantai.

Tak pelak, pembaruan sistem pendidikan yang dilakukan Dahlan
banyak dikritik. Ia dituduh meniru perbuatan orang kafir. Namun,
Dahlan tak peduli. Ternyata, muridnya terus bertambah. Bahkan
sistem klasikal ini kemudian diikuti pesantren-pesantren hingga
kini.

Bagi Dahlan, tidak semua yang berasal dari penjajah buruk. Hal-
hal yang baik boleh dan bahkan harus diikuti. Ini termasuk
ketika ia memasukkan kurikulum pengetahuan umum --antara lain
ilmu mantiq (logika)-- sebagai mata pelajaran di madrasahnya. Ia
juga membentuk Hizbul Wathon (kepanduan), mendirikan rumah
sakit, dan panti asuhan.

Bahkan pendirian Muhammadiyah pada Desember 1912, konon juga
diinspirasi oleh keberadaan penjajah. Dahlan melihat penjajah
sebagai kekuatan jahat bisa berkuasa, mengalahkan kekuatan Islam.
Menurutnya, itu karena penjajah terorganisasi dengan baik. Ia
pun berkesimpulan "kebaikan yang tak terorganisasi akan kalah
dengan kejahatan yang terorganisir".

Apa yang dilakukan Dahlan tak lepas dari perintah agama. Baginya,
beragama itu tidak sulit. Alquran dan Hadis bukan untuk
diwacanakan, tapi untuk diamalkan. Karena itu ia
mengejawantahkan surat Al-Ma'un --antara lain perintah
menyantuni fakir miskin-- dengan membangun panti-panti asuhan
dan rumah sakit.

Menurutnya, beragama itu menggembirakan, bukan sebaliknya. Agar
orang suka serta gembira dalam menjalankan ajaran agama, ia
mengatakan "Mati adalah bahaya, akan tetapi lupa kepada kematian
merupakan bahaya yang jauh lebih besar dari kematian itu
sendiri'.

Dalam hal hukum, menurut Dahlan, dasar pokoknya adalah Alquran
dan Hadis. Bila dari keduanya tidak diketemukan kaidah hukum
yang eksplisit, maka ditentukan berdasarkan penalaran dengan
mempergunakan kemampuan berpikir logis (akal pikiran), ijtimak
(kesepakatan ulama) serta qiyas (analogi).

KHA Dahlan wafat tahun 1923, pada usia 55 tahun. Meskipun ia
hanya sempat memimpin Muhammadiyah selama 12 tahun, tapi ormas
yang ia dirikan itu berkembang pesat. Ribuan sekolah, madrasah,
kampus, pesantren, rumahsakit, panti asuhan, dan amal usaha
milik Muhammadiyah kini tersebar di hampir seluruh Indonesia.
Semua itu jelas merupakan amal jariyah KH Ahmad Dahlan.
Prof. Dr. M. Amien Rais

‘King Maker’ Pentas Politik Nasional


Partai Amanat Nasional mendeklarasikan pasangan Amien Rais dan Siswono Yudo Husodo sebagai calon presiden dan wapres hari Minggu 9 Mei 2004 di halaman belakang Gedong Joeang 45, Jakarta.  Dwitunggal yang disebut sebagai koalisi agamis-nasionalis dan nasionalis-agamis itu bertekad membangun kedamaian dan menuntaskan reformasi.
 
Selain itu, dwitunggal ini juga disebut sebagai pemimpin yang berani, jujur dan amanah. Pada acara deklarasi ini, juga dibacakan garis besar platform Amien Rais Siswono yang bertajuk 'Akselerasi Kemajuan Bangsa 2004-2009.

Kiprah Prof. Dr. M. Amien Rais dalam pentas politik nasional cukup fenomenal. Kendati Partai Amanat Nasional (PAN) yang dipimpinnya, hanya mendapat tujuh persen suara pada Pemilu 1999, ia mampu menjadi king maker pentas politik nasional dan menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bahkan nyaris pula jadi presiden pada SU-MPR 1999. Kini, mantan Ketua Umum Muhammadiyah itu menjadi salah satu kandidat kuat calon presiden yang berpeluang memenangi Pemilu Presiden 2004.

Pada awal bergulirnya reformasi, putera bangsa kelahiran Solo, 26 April 1944, ini didaulat berbagai kalangan aktivis sebagai Bapak Reformasi. Ia menonjol dengan berbagai aktivitas dan pernyataan-pernyataan yang cerdas dan keras ketika itu. Memang, sejak awal bergulirnya reformasi yang digerakkan oleh para mahasiswa, Amien Rais sudah menyatakan diri ingin mencalonkan diri sebagai presiden. Suatu pernyataan yang tergolong amat berani sebelum lengsernya Pak Harto.

Pencalonan dirinya menjadi presiden itu, bukanlah semata-mata didorong hasrat untuk berkuasa, melainkan lebih didorong keprihatinannya atas penderitaan rakyat akibat kesalahan kepemim-pinan nasional yang otoriter dan korup. Ia melihat, keterpurukan bangsa ini harus diperbaiki mulai dari tampuk kekuasaan.

Obsesi inilah yang mendorong Guru Besar Universitas Gajah Mada ini mendirikan PAN bersama-sama dengan para tokoh reformis lainnya. Sebuah partai terbuka berasas Pancasila dan berbasis utama Muhammadiyah. Namun suara yang diperoleh PAN pada Pemilu 1999 tidak cukup signifikan untuk mengantarkannya ke kursi presiden untuk dapat mengendalikan upaya pewujudan tujuan reformasi total.

Kini, PAN sudah lebih siap untuk bersaing dalam Pemilu Leigslatif dan Pemilu Presiden 2004. Partai ini bertekad untuk mengantarkan Amien Rais menjadi Presiden RI 2004-2009 melalui Pemilu Presiden 2004. Para fungsionaris partai ini diyakini banyak pihak mempunyai kemampuan menggalang kekuatan beraliansi dengan partai-partai lain untuk memenangi Pemilu Presiden 2004 itu.

PAN dinilai banyak kalangan sebagai partai masa depan dan reformis yang memiliki ‘keunikan’ dibanding beberapa partai lain. Partai ini adalah partai terbuka (kebangsaan) tetapi berkompeten mengatasnamakan (menyuarakan) aspirasi Islam. Suatu partai yang dinilai sangat ideal untuk Indonesia masa depan.

Sementara, Amien Rais tampak tampil sebagai personifikasi dari PAN. Ia memiliki ‘keunikan’ serupa dengan partai yang didirikan dan dipimpinnya ini. Ia seorang tokoh berjiwa kebangsaan yang berlatarbelakang dan memiliki kedalaman religi Islam yang taat. Ia seorang cendekiawan muslim yang berjiwa kebangsaan. Seorang yang sejak kecil diasuh dalam keluarga Muhammadiyah yang taat. Seorang tokoh yang berkompeten hadir dalam eksisistensi kebangsaan sekaligus kompeten dalam eksistensi keislaman. Sehingga pantas saja ia dijagokan sebagai calon presiden terkuat untuk bersaing dengan calon-calon presiden lainnya.

Kepiawian Berpolitik
Kepiawiannya berpolitik juga sudah terbukti. Kendati partai yang dipimpinnya bukan pemenang Pemilu 1999, tapi peranannya dalam pentas politik nasional sangat menonjol. Sehingga ia pantas digelari sebagai King Maker Pentas Politik Nasional.

Kecerdasannya menggalang partai-partai berbasis Islam membentuk Poros Tengah, suatu bukti kepiawiaannya berpolitik. Pembentukan Poros Tengah ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya kericuhan dan perpecahan bangsa, sebagai akibat kerasnya persaingan perebutan jabatan presiden antara BJ Habibie (Partai Golkar) dengan Megawati Sukarnoputri (PDIP).

Dan, memang Poros Tengah secara gemilang berhasil merubah konstalasi politik nasional secara signifikan. Amien Rais tampak berperan sebagai play maker bahkan king maker dalam berbagai manuver politik Poros Tengah yang berpengaruh luas dalam pentas politik nasional. Ia jauh lebih berperan dari pimpinan partai politik (PDIP, Partai Golkar, PPP dan PKB) yang meraih suara lebih besar dibanding PAN pada Pemilu 1999.

Salah satu manuver politik Amien Rais (dengan mengangkat bendera Poros Tengah) yang dinilai banyak orang sangat brilian adalah pernyataannya menjagokan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai calon presiden. Manuver ini berhasil melemahkan kekuatan Megawati, sebagai calon kuat presiden ketika itu, karena berhasil menarik PKB dari koalisinya dengan PDIP. Tetapi juga sekaligus melemahkan kekuatan BJ Habibie, yang sebenarnya tidak diinginkan beberapa elit politik partai berbasis Islam yang tergabung dalam Poros Tengah, seperti PPP dan PBB.

Bahkan, justeru BJ Habibie yang terlebih dahulu -- secara tidak langsung -- terkena dampak manuver politik Poros Tengah. Laporan pertangungjawaban Habibie ditolak SU-MPR 1999, yang memaksanya secara etika politik mengurungkan pencalonan presiden.
Mundurnya BJ Habibie membuka peluang kepada Amien Rais, Akbar Tanjung, Hamzah Haz, dan Yusril Ihza Mahendra ikut dalam bursa calon presiden. Dalam pertemuan di kediaman BJ Habibie, pada malam setelah LPJ-nya ditolak MPR, nama keempat pemimpin partai ini dibahas sebagai calon presiden pengganti BJ Habibie. Dan, terakhir Amien Rais yang lebih diunggulkan.

Hampir saja Amien Rais resmi menjadi calon presiden yang dijagokan Poros Tengah dan Golkar. Tetapi Amien Rais tidak mau gegabah. Kendati peluangnya menjadi calon kuat presiden telah terbuka, ia ingin melakukannya dengan lebih elegan.

Ia ingin berbicara lebih dulu dengan Gus Dur. Ia butuh dukungan Gus Dur, sama seperti ia mengalah-kan Matori Abdul Jalil untuk merebut jabatan Ketua MPR. Apalagi Amien Rais telah secara terbuka menyatakan bahwa ia dan Poros Tengah akan mencalonkan Gus Dur menjadi presiden. Sehingga betapa pun kuatnya dorongan agar ia men-jadi presiden, ia tidak mau gegabah. Ia punya etika dan moral politik.

Maka ketika Gus Dur telah mendahului secara resmi dicalonkan PKB untuk merebut kursi presiden, Amien Rais tidak mau bersaing mencalonkan diri. Ia dan Poros Tengah mendukung pencalonan Gus Dur. Sehingga jadilah Gus Dur, dengan kesehatan jasmani yang sudah terganggu, terpilih menjabat presiden menga-lahkan Megawati Sukarnoputri pemimpin partai pemenang Pemilu (35%).

Poros Tengah yang dimotori Amien Rais berhasil merubah konstalasi politik nasional secara signifikan. Poros Tengah berhasil meredam kemungkinan terjadinya kericuhan antara dua kekuatan pendukung Megawati dengan BJ Habibie, yang berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa. Poros Tengah berhasil mengantarkan KH Abdurrahman Wahid ke singgasana presiden. Kendati Abdurrahman Wahid dalam banyak hal sering berbeda pendapat dengan prinsip yang dianut para elit politik Poros Tengah.

Itu semua tidak terlepas dari kepiawian Amien Rais. Dengan hanya mendapat tujuh persen suara pada pemilu 1999, Partai Amanat Nasional (PAN) yang dipimpinnya mampu mewarnai peta politik setelah tumbangnya rezim Orde Baru. Tidak sedikit pujian yang kemudian dialamatkan kepadanya.

Menanggapi puji-pujian ini ia sendiri hanya mengatakan, “Apa yang saya lakukan itu semata-mata untuk kepentingan bangsa dan negara tercinta. Saat itu bangsa ini berada di ambang kehancuran. Untuk mencegahnya maka ditawar-kan Poros Tengah sebagai alternatif. Alhamdulilah, tawaran itu mendapat sambutan cukup baik dari sebagian besar kalangan,” katanya.

Itulah Amien Rais. Ia piawai dalam memanfaatkan situasi. Canggih dalam menciptakan peluang, bahkan mampu memaksimalkan sumber daya yang ada, meskipun kecil, untuk meraih hasil yang jauh lebih besar.

Hubungan Amien Rais dan Poros Tengah dengan Gus Dur, pada awal pemerintahan Gus Dur, terkesan sangat baik. Amien Rais bahkan merupakan satu dari empat orang yang dimintai tolong oleh Gus Dur untuk menyusun kabinetnya, yang sering disebut sebagai kabinet yang paling kompromistis dalam sejarah Indonesia.

Tetapi sayang, seiring berjalannya waktu, hubungan antara Gus Dur dan Amien Rais merenggang. Kekuatan Poros Tengah yang dulu mendukung Gus Dur, mulai merasa tak dihargai. Gus Dur cepat lupa kepada mereka yang memungkinkannya jadi presiden. Gus Dur kembali dalam habitatnya, dan sering kontroversial.

Keretakan makin mencuat terutama setelah Gus Dur memecat Hamzah Haz dari jabatan Menko Kesra. Poros Tengah merasa dilukai. Poros Tengah berbalik arah menggalang kekuatan dengan PDIP dan Golkar yang juga sudah merasa dilecehkan Gus Dur. Akhirnya, pada Juli 2001 Gus Dur pun diturunkan dari kursi presiden dan Megawati naik menggantikannya. Dalam proses ini, Amien Rais juga memain-kan peranan yang cukup besar.

Karir politik Amien Rais, mulai mencuat setelah semasa rezim Orde Baru ia berkesempatan memimpin Muhammadiyah (1995-2000). Kesem-patan itu diperoleh setelah ia menjabat Wakil Ketua Muhammadi-yah dan Asisten Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) 1991-1995. Kemudian menjadi Ketua Dewan Pakar ICMI.

Ia mulai secara terbuka berseberangan dengan Soeharto, setelah Soeharto mencoret namanya dari daftar calon Anggota MPR 1997 bersama Adi Sasono yang diajukan oleh BJ Habibie. Sejak itu, ia me-nunjukkan kualitas yang sesungguh-nya. Bahwa ia bukan orang karbitan. Ia punya kemampuan untuk menjadi pemimpin nasional.

Seiring bergulirnya reformasi, ia pun sering mengeluarkan komentar-komentar kritis kepada Soeharto. Sehingga doktor ilmu politik ini juga berperan besar seputar proses reformasi yang menjatuhkan kekuasaan presiden kedua Republik Indonesia itu.

Salah seorang tokoh pendeklarasi ICMI ini bersatu dengan mahasiswa menuntut turunnya Soeharto dari singgasana yang telah dinikmatinya selama 32 tahun. Setelah Soeharto jatuh, Amien Rais bahkan sempat seperti alergi menyebut nama panggilan Pak Harto. Ia selalu menyebut Soeharto tanpa embel-embel Pak, sebagaimana lazimnya Suharto dipanggil. Kendati untuk hal ini, ia dianggap beberapa orang terlalu emosional.

Bukan saja manuver politiknya yang menarik dan seringkali berhasil mencapai konsensus, tetapi juga ia menjadi tokoh politik yang relatif bersih dari gosip kotor. Hanya pernah satu kali ia digosipkan oleh orang tertentu sebagai orang yang membuat terpidana Zarima hamil. Tetapi tuduhan itu dibantah keras. Publik pun tidak mudah percaya atas gosip murahan itu. Zarima, si ratu ekstasi pun angkat bicara bahwa ia tidak pernah berhubungan dengan Amien Rais.

Ketika gosip ini digulirkan, isterinya Kusnasriyati Sri Rahayu, menunjukkan kualitas pribadinya sebagai seorang ibu yang bijak. Ia tak mudah diterpa gasip yang diyakini digulirkan orang tak bertanggung jawab itu.

Apresiasi publik semakin meningkat kepada tokoh yang memiliki integritas diri yang kuat dan utuh ini. Salah satu, atas sumbangan dan kepiawian Amien di bidang sosial-politik, masyarakat adat Banuhampu, Padang Luar, Bukittinggi, Sumatera Barat, menganugerahkan gelar “Tuanku Panghulu Alam Nan Sati” yang artinya lebih kurang Pemimpin Alam yang Sakti. Buat Amien, gelar Tuanku Panghulu Alam Nan Sati, itu merupakan anugerah besar. Ketika menyampaikan pidato sam-butan, Ketua Umum PAN itu merasa akan dapat berdiri sejajar dengan raja-raja di Jogjakarta dan Solo.

“Di Jogja ada dua raja, Hamengku Buwono dan Paku Alam. Di Solo ada Paku Buwono dan Mangkunegara. Jadi, kalau saya nanti kembali ke Jogya atau Solo, saya juga sudah punya gelar. Tidak sembarang orang bisa terima gelar ini,” kata Amien Rais menyambut penghargaan itu.

Gelar itu diberikan kepada Amien karena banyak rakyat Minangkabau bersimpati atas kepemimpinannya selama ini. Di samping tentu saja karena PAN yang dipimpinnya sudah dikenal masyarakat Sumatera Barat. Bahkan, partai itu mampu meng-ungguli PDI-P dan Partai Golkar di Padang, ibu kota Sumatera Barat.

Gerakan & Organisasi
Sebelum berkecimpung dalam dunia politik praktis, Amien Rais mengabdikan dirinya sebagai Guru Besar di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Di UGM, ia mengasuh mata kuliah Teori Politik Internasional serta Sejarah dan Diplomasi di Timur Tengah. Ia juga dipercaya mengajar mata kuliah Teori-teori Sosialisme. Yang paling menyenangkannya adalah mata kuliah Teori Politik Internasional. Di Fakultas Pascasarjana UGM ia dipercaya memegang mata kuliah Teori Revolusi dan Teori Politik.

‘Selain menjabat Ketua Umum DPP Muhammadiyah, ia juga mengelola Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan [PPSK], suatu lembaga pengkajian dan penelitian di bawah yayasan Mulia Bangsa Yogyakarta. Salah satu raison d’etre kelahiran PPSK adalah keprihatinan masih terbatasnya hasil-hasil pengkajian yang menyangkut masalah-masalah strategis dan kebijakan yang berorientasi pada masyarakat lemah.

Lembaga pengkajian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi pemikiran yang meliputi: Pertama, identifikasi permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan. Kedua, analisa yang akurat mengenai berbagai kecenderungan global di bidang sosial-budaya, agama, ekonomi, politik dan iptek serta dampaknya pada bangsa Indonesia. Ketiga, usulan pemecahan terhadap berbagai persoalan bangsa berdasarkan telaah strategis dan kebijakan yang realistis dan matang. Berbagai produk pemikirannya dipublikasikan lewat majalah Prospektif, yang terbit tiga bulan sekali.

PPSK ini memiliki peran besar dalam membidani lahirnya ICMI. Di kantor PPSK inilah pertama kali konsep ICMI digodok, kemudian dibawa ke Wisma Muhammadiyah di Tawangmangu, Solo, untuk disempurnakan. Setelah itu baru dibawa ke Malang.
Sejumlah tokoh penting bergabung di lembaga ini, di antaranya: Moeljoto Djojomartono, Soedjatmoko, Ahmad Baiquni, Kuntowijoyo, Bambang Sudibyo, Umar Anggara Jenie, Ichlasul Amal, Yahya A. Muhaimin, Affan Gafar, A. Syafi’i Maarif, dan Amien Rais yang dipercaya untuk memimpinnya.

Masyarakat ilmiah mengenal dan sangat memperhitungkan lembaga ini, selain karena produk-produk pemikirannya, juga karena kredibilitas keilmuan dan reputasi tokoh-tokohnya. Namun masyarakat luas baru mengetahuinya setelah terjadinya dua peristiwa yakni meninggalnya Dr. Soedjatmoko, saat berceramah di hadapan teman-temannya di kantor PPSK, sehingga hampir semua media massa di tanah air memberitakan peristiwa kematiannya; dan pertemuan antara Arifin Panigoro dan kawan-kawan dengan kelompok PPSK yang diselenggarakan di Hotel Radison, Yogyakarta, 5 Februari 1998.

Pertemuan ini kemudian dikenal dengan istilah “kasus Radison” dan menjadi polemik panjang yang mewarnai media massa waktu itu. Karena rezim Soeharto menuduh pertemuan ini sebagai upaya “makar” terhadap pemerintah Orde Baru. Sebetulnya acara tersebut merupakan acara rutin dan bersifat akademis dengan tema reformasi yang meliputi reformasi politik, reformasi ekonomi, dan reformasi hukum. Beberapa orang yang hadir dalam pertemuan itu sempat dimintai keterangan oleh pihak berwajib, bahkan Arifin Panigoro sempat menjadi tersangka.

Sejak belia, mantan Ketua Dewan Pakar ICMI ini sudah terlibat dalam berbagai gerakan. Kecintaannya pada organisasi diawali dari keterlibatannya di pandu Hizbul Wathon. Ia dipercaya oleh teman-temannya untuk memimpin sebuah regu yang terdiri dari tujuh orang yang diberi nama regu Rajawali. Regu yang dipimpinnya selalu memenangkan berbagai perlombaan, seperti lomba tali-temali, morse, membuat jembatan, sampai pada lomba masak-memasak.

Di sinilah Amien kecil mulai menyadari kekuatan kebersamaan dan makna kepemimpinan. Ketika menjadi mahasiswa, ia termasuk salah seorang pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah [IMM]. Ia juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam [HMI], dan pernah dipercaya untuk menduduki jabatan sekretaris Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam [LDMI] HMI Yogyakarta.

Di samping kegandrungannya berorganisasi, ia juga sudah aktif menulis artikel sejak belia. Ketika mahasiswa, ia menjadi penulis kolom yang tajam dan produktif. Sehingga ia pernah dianugerahi Zainal Zakse Award oleh tabloid mingguan Mahasiswa Indonesia yang terbit di Bandung dan Harian Kami di Jakarta, koran mahasiswa yang legendaris di awal Orde Baru. ► ch robin simanullang, dari berbagai sumber al: The Amien Rais Center  

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Selasa, 05 Oktober 2010

Buya Hamka (1908-1981)

Ulama, Politisi dan Sastrawan Besar

 
Buya Hamka seorang ulama, politisi dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia. HAMKA adalah akronim namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981.

Dia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati.

Ayahnya, Syeikh Abdul Karim bin Amrullah, disapa Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah(tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah 1906.

HAMKA mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga Darjah Dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padangpanjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padangpanjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).

Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.

Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui pertubuhan Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.

Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 apabila beliau menjadi anggota parti politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kemaraan kembali penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerila di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno kerana dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mula menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majlis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an lagi, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.

Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno daripada pemerintah Indonesia.

Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai. ► ti, http://luluvikar.wordpress.com/2005/08/01/biografi-buya-hamka/
 

Daftar Karya Buya Hamka
- Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
- Si Sabariah. (1928)
- Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.
- Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
- Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
- Kepentingan melakukan tabligh (1929).
- Hikmat Isra' dan Mikraj.
- Arkanul Islam (1932) di Makassar.
- Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
- Majallah 'Tentera' (4 nomor) 1932, di Makassar.
- Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
- Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
- Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936) Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
- Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
- Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
- Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
- Tuan Direktur 1939.
- Dijemput mamaknya,1939.
- Keadilan Ilahy 1939.
- Tashawwuf Modern 1939.
- Falsafah Hidup 1939.
- Lembaga Hidup 1940.
- Lembaga Budi 1940.
- Majallah 'SEMANGAT ISLAM' (Zaman Jepun 1943).
- Majallah 'MENARA' (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
- Negara Islam (1946).
- Islam dan Demokrasi,1946.
- Revolusi Pikiran,1946.
- Revolusi Agama,1946.
- Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.
- Dibantingkan ombak masyarakat,1946.
- Didalam Lembah cita-cita,1946.
- Sesudah naskah Renville,1947.
- Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
- Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi, Sedang Konperansi Meja Bundar.
- Ayahku,1950 di Jakarta.
- Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
- Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
- Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
- Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai tahun 1950.
- Kenangan-kenangan hidup 2.
- Kenangan-kenangan hidup 3.
- Kenangan-kenangan hidup 4.
- Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
- Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
- Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
- Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
- Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
- Pribadi,1950.
- Agama dan perempuan,1939.
- Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.
- 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
- Pelajaran Agama Islam,1956.
- Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
- Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
- Empat bulan di Amerika Jilid 2.
- Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), utk Doktor Honoris Causa.
- Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
- Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
- Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
- Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
- Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
- Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
- Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
- Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
- Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
- Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
- Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
- Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
- Himpunan Khutbah-khutbah.
- Urat Tunggang Pancasila.
- Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
- Sejarah Islam di Sumatera.
- Bohong di Dunia.
- Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
- Pandangan Hidup Muslim,1960.
- Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.
- Tafsir Al-Azhar [1] Juzu' 1-30, ditulis pada saat dipenjara

Aktivitas lainnya
- Memimpin Majalah Pedoman Masyarakat, 1936-1942
- Memimpin Majalah Panji Masyarakat dari tahun 1956
- Memimpin Majalah Mimbar Agama (Departemen Agama), 1950-1953

Rujukan
Kenangan-kenangan 70 tahun Buya Hamka, terbitan Yayasan Nurul Islam, cetakan kedua 1979.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
 
 

KH Ahmad Dahlan (1868-1923)
Pendiri Muhammadiyah

Ahmad Dahlan (bernama kecil Muhammad Darwisy), adalah pelopor dan bapak pembaharuan Islam. Kyai Haji kelahiran Yogyakarta, 1 Agustus 1868, inilah yang mendirikan organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912. Pahlawan Nasional Indonesia ini wafat pada usia 54 tahun di Yogyakarta, 23 Februari 1923.

KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di nusantara. Ia ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Ia mendirikan Muhammadiyah bukan sebagai organisasi politik tetapi sebagai organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan.

Pada saat Ahmad Dahlan melontarkan gagasan pendirian Muhammadiyah, ia mendapat tantangan bahkan fitnahan, tuduhan dan hasutan baik dari keluarga dekat maupun dari masyarakat sekitarnya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut. 1)

Atas jasa-jasa KH Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional didasarkan pada empat pokok penting yakni: Pertama, KH Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.

Kedua, dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan ummat, dengan dasar iman dan Islam. Ketiga, dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam. Keempat, dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan.

Diasuh di Lingkungan Pesantren
Muhammad Darwisy lahir dari keluarga ulama dan pelopor penyebaran dan pengembangan Islam di tanah air. Ayahnya, KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta, dan ibunya, Nyai Abu Bakar adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.

Ia anak keempat dari tujuh orang bersaudara, lima saudaranya perempuan dan dua lelaki yakni ia sendiri dan adik bungsunya. Dalam silsilah, ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). 2)Idem

Silsilahnya lengkapnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH Abu Bakar bin KH Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlul'llah (Prapen) bin Maulana 'Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).

Sejak kecil Muhammad Darwisy diasuh dalam lingkungan pesantren, yang membekalinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Pada usia 15 tahun (1883), ia sudah menunaikan ibadah haji, yang kemudian dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun. Ia pun semakin intens berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah. Interaksi dengan tokoh-tokoh Islam pembaharu itu sangat berpengaruh pada semangat, jiwa dan pemikiran Darwisy.

Semangat, jiwa dan pemikiran itulah kemudian diwujudkannya dengan menampilkan corak keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah. Bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot). Ahmad Dahlan memandang sifat ortodoks itu akan menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Maka, ia memandang, pemahaman keagamaan yang statis itu harus diubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur'an dan al-Hadits.

Setelah lima tahun belajar di Makkah, pada tahun 1888, saat berusia 20 tahun, Darwisy kembali ke kampungnya. Ia pun berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Lalu, ia pun diangkat menjadi khatib amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.Pada tahun 1902, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya, sekaligus dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah hingga tahun 1904.

Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil. Siti Walidah, kemudian lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Pasangan ini mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991).

Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).

Mendirikan Muhammadiyah
Semangat, jiwa dan pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, yang diperolehnya dari Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, ibn Taimiyah dan lain-lain selama belajar Makkah (1883-1888 dan 1902-1904), kemudian diwujudkannya dengan menampilkan corak keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah. Bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot).

Ahmad Dahlan memandang sifat ortodoks itu akan menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Maka, ia memandang, pemahaman keagamaan yang statis itu harus diubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur'an dan al-Hadits.

Dahlan sendiri sadar bahwa semaangat pembaharuannya tidak akan serta-merta dapat dipahami dan diterima keluarga dan masyarakat sekitarnya. Tidak mudah melakukan pemharuan pada suatu sifat ortodoks yang sudah membeku. Maka, entah terkait atau tidak, ada sebuah nasehat yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri.

Bunyinya demikian: "Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).

Dalam artikel riwayat Ahmad Dahlan di situs resmi Parsyarikatan Muhammadiyah (muhammadiyah.or.id), pesan ini disebut menyiratkan sebuah semangat yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah.

Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.

Dijelaskan dalam artikel itu, kesadaran seperti itulah yang menyebabkan Dahlan sangat merasakan kemunduran ummat Islam di tanah air. Hal ini merisaukan hatinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan mereka. Dahlan sadar bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilaksanakan seorang diri, tetapi harus dilaksanakan oleh beberapa orang yang diatur secara seksama. Kerjasama antara beberapa orang itu tidak mungkin tanpa organisasi. Perkumpulan, parsyarikatan dan gerakan dakwah: Muhammadiyah.

Dahlan pun memilih strategi yang amat baik dengan lebih dahulu membina angkatan muda untuk turut bersama-sama melaksanakan upaya dakwah tersebut, sekaligus meneruskan cita-citanya memajukan bangsa ini. Apalagi ia berkesempatan mengakselerasi dan memperluas gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah itu dengan mendidik para calon pamongpraja (calon pejabat) yang belajar di OSVIA Magelang dan para calon guru yang belajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta. Karena, ia sendiri diizinkan oleh pemerintah kolonial untuk mengajarkan agama Islam di kedua sekolah tersebut.

Tentu saja para calon pamongpraja tersebut dapat diharapkan mengaselerasi dan memperluas gagasannya tersebut, karena mereka akan menjadi orang yang mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat. Begitu pula para calon guru akan segera mempercepat proses transformasi ide tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, kepada murid-muridnya. Guna mengintensifkannya, Dahlan pun mendirikan sekolah guru yang kemudian dikenal dengan Madrasah Mu'allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu'allimat (Kweekschool Istri Muhammadiyah). Di sekolah ini, Dahlan mengajarkan agama Islam dan menyebarkan cita-cita pembaharuannya.

Dahlan dikenal sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat. Dengan gagasan-gagasan cemerlang dan kegiatan kemasyarakatannya, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat. Termasuk dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Pada tahun 1912, tepatnya tanggal 18 Nopember 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam. Ia punya visi untu melakukan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits.

Berbagai tantangan ia hadapi sehubungan dengan gagasan pendirian Muhammadiyah itu. Bahkan ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Kiai palsu. Sampai ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar.

Dahlan teguh pada pendiriannya. Pada tanggal 20 Desember 1912, ia mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Tampaknya, Pemerintah Hindia Belanda ada kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Sehingga izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta
Namun, walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, dan Imogiri dan lain-lain tempat telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung Pandang dengan nama Al-Munir, di Garut dengan nama Ahmadiyah.

Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama'ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jama'ah-jama'ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang di antaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta'awanu alal birri, Ta'ruf bima kan,u wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33).

Gagasan pembaharuan Islam, Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, di samping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

Dalam bulan Oktober 1922, Ahmad Dahlan memimpin delegasi Muhammadiyah dalam kongres Al-Islam di Cirebon. Kongres ini diselenggarakan oleh Sarikat Islam (SI) guna mencari aksi baru untuk konsolidasi persatuan ummat Islam. Dalam kongres tersebut, Muhammadiyah dan Al-Irsyad (perkumpulan golongan Arab yang berhaluan maju di bawah pimpinan Syeikh Ahmad Syurkati) terlibat perdebatan yang tajam dengan kaum Islam ortodoks dari Surabaya dan Kudus. Muhammadiyah dipersalahkan menyerang aliran yang telah mapan (tradisionalis-konservatif) dan dianggap membangun mazhab baru di luar mazhab empat yang telah ada dan mapan.

Muhammadiyah juga dituduh hendak mengadakan tafsir Qur'an baru, yang menurut kaum ortodoks-tradisional merupakan perbuatan terlarang. Menanggapi serangan tersebut, Ahmad Dahlan menjawabnya dengan perkataan, "Muhammadiyah berusaha bercita-cita mengangkat agama Islam dari keadaan terbekelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur'an dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada Qur'an dan Hadits. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir".

Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan duabelas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah Algemeene Vergadering (persidangan umum).

Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. Sebagai salah seorang keturunan bangsawan yang menduduki jabatan sebagai Khatib Masjid Besar Yogyakarta, ia mempunyai penghasilan cukup tinggi. Ia juga berkecimpung sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik.  ►crs
*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Sumber:

Sabtu, 02 Oktober 2010

AL-QUR'AN PENYEMBUH HATI BAGI PEMBACANYA


Struktur dasar alam semesta ini adalah atom, dan struktur dasar tubuh kita adalah sel. Setiap sel terbuat dari jutaan atom, dan setiap atom terbentuk dari nukleus positif dan elektron negatif yang mengelilinginya. Karena rotasi ini, medan elektromagnetik dihasilkan, sama seperti medan- medan yang dihasilkan oleh suatu mesin.
Program ini berada di setiap sel yang melakukan pekerjaannya secara seksama. Penyimpangan terkecil pada pekerjaannya dapat mengakibatkan ketidak-seimbangan dan kekacauan pada sebagian organ tubuh. Terapi terbaik terhadap ketidak-seimbangan ini adalah merestorasi keseimbangan kepada tubuh. Para ilmuwan menemukan bahwa sel-sel tubuh itu terpengaruh oleh bermacam-macam gelombang seperti gelombang sinar, gelombang radio, gelombang suara, dan lain-lain. Tetapi, suara apa ?
Semua organ itu bekerja secara bersama sesuai seirama dengan sinyal-sinyal tersebut, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dipahami manusia. Lalu, otak menganalisa sinyal-sinyal itu dan memberikan perintahnya kepada berbagai organ tubuh untuk menyesuaikan dengan sinyal-sinyal tersebut. Suara terdiri dari getaran-getaran mekanik yang sampai ke telinga lalu ke sel-sel otak yang menyesuaikan dengan getaran-getaran tersebut, dan mengubah getarannya sendiri. Itulah mengapa suara itu dianggap sebagai energi obat yang efektif, tergantung pada sifat suara itu dan frekuensinya. Kita menemukan energi penyembuh di dalam al-Qur’an karena ia merupakan Kitab Allah.
 Dari sinilah muncul terapi suara: Suara adalah getaran, dan sel-sel tubuh itu selalu bergetar, lalu suara memengaruhi sel-sel tersebut. Inilah yang ditemukan para peneliti akhir-akhir ini. Di akhir abad 21 di Washington University, para ilmuwan menemukan bahwa kerja sel otak bukan hanya mentransfer informasi. Masing-masing sel adalah komputer kecil yang bekerja untuk mengumpulkan informasi, memprosesnya, dan memberikan perintah secara konstan. Ellen Covey, peneliti pada Washington University, mengatakan, ‘Untuk pertama kalinya kita menyadari bahwa otak tidak bekerja layaknya satu komputer besar, melainkan berisi sekian banyak komputer yang bekerja secara kooperatif. Ada komputer kecil dalam setiap sel, dan komputer-komputer tersebut dapat terpengaruhi oleh getaran di sekitarnya, khususnya suara.
Jadi, dapat kami katakan bahwa sel-sel tiap organ tubuh itu bergetar dalam frekuensi tertentu, dan membentuk sistem yang kompleks dan koordinatif, yang dapat terpengaruh oleh suara di sekitarnya. Penyakit yang menjangkiti suatu organ tubuh itu dapat mengakibatkan perubahan pada getaran sel-sel organ tersebut, dan pada kelanjutannya membuatnya menyimpang dari sistem tubuh secara umum. Itulah mengapa ketika tubuh dihadapkan pada suara tertentu, maka suara itu memengaruhi getaran sistem tubuh, khususnya pada organ yang tidak normal.
Organ ini akan merespon suara tertentu untuk mengembalikan sistem getarannya yang orisinal, atau dengan kata lain, mengembalikan kondisi kesehatannya. Para ilmuwan menemukan hasil-hasil tersebut belakang ini.
Kronologi Terapi Suara
Alfred Tomatis, seorang dokter warga negara Prancis, membuat eksperimen-eksperimen selama lima puluh tahun mengenai indera manusia, dan ia membuat kesimpulan bahwa indera pendengaran merupakan indera yang paling penting! Ia menemukan bahwa pendengaran mengontrol seluruh tubuh, mengatur operasi-operasi vitalnya, keseimbangan, dan koordinasi gerakan-gerakannya. Ia juga menemukan bahwa telinga mengontrol sistem syaraf!
Selama eksperimennya, ia menemukan bahwa syaraf pendengaran terhubung dengan seluruh otot tubuh, dan ini adalah alasan mengapa keseimbangan dan fleksibilitas tubuh, serta indera penglihatan itu terpengaruh oleh suara. Telinga bagian dalam terhubung dengan seluruh organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati, perut, dan usus. Hal ini menjelaskan mengapa frekuensi-frekuensi suara itu memengaruhi seluruh tubuh.
Pada tahun 1960, ilmuwan Swiss yang bernama Hans Jenny menemukan bahwa suara dapat memengaruhi berbagai Artikelal dan membentuk partikular-partikularnya, dan bahwa masing-masing sel tubuh itu memiliki suaranya sendiri, dapat terpengaruh oleh suara, dan menyusun ulang Artikelal di dalamnya. Pada tahun 1974, peneliti Fabien Maman dan Sternheimer mengumumkan penemuan mengejutkan.
Mereka menemukan bahwa setiap organ tubuh itu memiliki sistem vibrasinya sendiri, sesuai dengan hukum fisika. Beberapa tahun kemudian, Fabien dan Grimal serta peneliti lain mengungkapkan bahwa suara dapat memengaruhi sel-sel, khususnya sel kanker, dan bahwa suara-suara tertentu memiliki efek yang lebih kuat. Hal ajaib yang ditemukan dua peneliti itu adalah bahwa suara yang memiliki efek paling kuat pada sel-sel tubuh adalah suara manusia itu sendiri!

Otak merupakan organ yang mengontrol tubuh, dan darinya muncul perintah untuk relaksasi organ-organ tubuh, khususnya sistem kekebalan tubuh. Fabian, seorang peneliti sekaligus musisi, meletakkan sel-sel darah dari tubuh yang sehat dan menghadapkannya pada berbagai macam suara. Ia menemukan bahwa setiap not skala musik dapat memengaruhi medan elektromagnetik sel.
Ketika ia memotret sel ini dengan kamera Kirlian, ia menemukan bahwa bentuk dan nilai medan elektromagnetik sel itu berubah sesuai dengan frekuensi-frekuensi suara dan tipe suara orang yang membaca. Kemudian ia membuat eksperimen lain dengan meletakkan darah orang sakit, memonitornya dengan kamera Kirlian, dan meminta pasien untuk membuat berbagai macam suara. Ia menemukan, sesudah memproses gambar, bahwa not tertentu dapat mengakibatkan perubahan pada medan elektromagnetiknya dan menggetarkannya secara seutuhnya dengan merespon suara pemiliknya.
Akhirnya ia menyimpulkan bahwa ada not-not tertentu yang bisa memengaruhi sel-sel dan membuatnya lebih vital dan aktif, bahkan meregenerasinya. Ia menarik suatu hasil yang penting : suara manusia memiliki pengaruh yang kuat dan unik terhadap sel-sel tubuh; pengaruh ini tidak ditemukan pada instrumen lain. Peneliti ini menyatakan, "Suara manusia memiliki nada spiritual khusus yang membuatnya menjadi sarana pengobatan yang paling kuat". Fabien menemukan bahwa beberapa suara dapat menghancurkan sel-sel kanker, dan pada waktu yang sama dapat mengaktifkan sel-sel yang sehat.
Tetapi, apakah pengaruh ini hanya terbatas pada sel-sel? Jelas bahwa suara dapat memengaruhi segala sesuatu di sekitar kita. Inilah yang dibuktikan Masaru Emoto, ilmuwan Jepang, dalam eksperimennya terhadap air. Ia menemukan bahwa medan elektromagnetik pada molekul-molekul air itu sangat terpengaruh oleh suara, dan ada suara-suara tertentu yang memengaruhi molekul dan membuatnya lebih teratur.
Apabila kita mengingat bahwa 70% tubuh manusia itu adalah air, maka suara yang didengar manusia itu memengaruhi keteraturan molekul-molekul air pada sel-sel tubuh, dan juga memengaruhi molekul-molekul itu bergetar, sehingga dapat memengaruhi kesehatannya.

Para peneliti lain mengonfirmasi bahwa suara manusia dapat mengobati banyak macam penyakit termasuk kanker. Para terapis juga menyetujui bahwa ada suara-suara tertentu yang lebih efektif dan memiliki kekuatan penyembuh, khususnya dalam meningkatkan sistem kekebatan tubuh.



Bagaimana Al-Qur’an mengobati ?

Sekarang, mari kita jawab pertanyaan penting : apa yang terjadi pada sel - sel tubuh dan bagaimana suara itu bisa mengobati ? Bagaimana suara ini berpengaruh pada sel - sel yang rusak dan mengembalikan keseimbangannya? Dengan kata lain, bagaimana mekanisme pengobatannya?. Para dokter selalu mencari jalan untuk menghancurkan beberapa virus.
Siapa yang memberi virus itu informasi sehingga bisa menyerang sel dan berkembang biak di dalamnya? Apa yang menggerakkan sel-sel untuk menyerang virus agar menghancurkannya, sementara ia lemah terhadap virus lain?
Bacaan Al-Qur’an itu terdiri dari sekumpulan frekuensi yang sampai ke telinga, lalu bergerak ke sel-sel otak, dan memengaruhinya melalui medan elektronik, lalu frekuensi-frekuensi tersebut mengaktifkan sel-sel. Sel-sel akan merespon medan itu dan memodifikasi vibrasi-vibrasinya. Perubahan pada vibrasi inilah yang kita rasakan dan pahami sesudah mengalami dan mengulangi.
Ini merupakan sistem alamiah yang diberikan Allah pada sel-sel otak. Ini merupakan sistem keseimbangan yang natural. Inilah yang difirmankan Allah kepada kita di dalam Al-Qur’an Al-Karim : "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Ar-Rum: 30)
Ayat-ayat Obat
Setiap ayat dalam Al-Qur’an memiliki daya penyembuh untuk penyakit tertentu. Tetapi yang ditekankan Rasulullah saw adalah beberapa surat dan ayat tertentu, seperti membaca Al-Fatihah 7 kali, membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir surat surat Al-Baqarah, dan tiga surat terakhir Al-Qur’an. Anda juga memilih ayat-ayat yang sesuai untuk mengobati penyakit Anda.



Sebagai contoh, jika anda merasa gelisah, maka fokuskan pada bacaan surat Asy-Syarh. Dan jika Anda sakit kepala, maka bacalah ayat : "Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir". (Al-Hasyr: 21)
Nabi saw membaca ta’awudz ratusan kali setiap hari. Beliau memohon kepada Allah untuk melindunginya dari berbagai hal buruk, termasuk penyakit. Kita juga sangat dianjurkan untuk membaca surat Al-Falaq dan An-Naas setiap hari. Semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai obat bagi kita dari setiap penyakit, lahir dan batin.
Dikutip oleh : Fadjar Sutardi dari Space Blog.Com

WARGA MUHAMMADIYAH WAJIB MENJADIKAN NABI MUHAMMAD SEBAGAI IDOLA

Ditulis  ulang oleh : FADJAR SUTARDI
DARI AKHWAT VISIONER di Senin, Juli 20, 2009
Kerusakan besar-besaran telah melanda dunia, menjelang diutusnya Rasululloh saw. Dunia barat dan timur, terkena wabah jahiliyah. Kerusakan terjadi bukan sekedar pada hancurnya peradaban saja, lebih dari itu kerusakan telah terjadi pada berbagai aspek kehidupan manusia, sehingga satu sama lain dari manusia itu saling memangsa. Sebagai contohnya, Licky dalam bukunya “Sejarah Moral Eropa” menggambarkan satu segi dari kebiadaban dan kebuasan manusia yang sulit dicari bandingannya, sebagai berikut: ‘kebanyakan pemandangan bagi penduduk kota Roma yang telah membuat mereka bagai kena sihir dan telah menjadi hiburan yang menyenangkan adalah ketika mereka menyaksikan pertarungan antara manusia dengan binatang buas. Ketika itu mereka lupa diri, lepas kontrol, saling berdesakan, melihat adegan itu dengan penuh antusias, hingga akhimya manusia yang malang itu terkapar jatuh terkalahkan oleh binatang buas lawan tandingnya. Padahal ia itu merupakan bagian dari bangsanya sendiri, akan tetapi secara tragis ia dijadikan hiburan disaat akhir hidupnya, hingga ia menjadi primadona indah saat menikmati pedihnya sakaratul maut.’

Sesungguhnya manusia itu sendiri yang memerlukan hadirnya seorang Rasul yang akan menuntun mereka kejalan yang lurus, namun banyak diantara mereka yang tidak menyadarinya. Sehingga ketika betul-betul telah datang seorang Rasul, tiba-tiba mereka itu berbalik memusuhi Rasul itu. Maka Alloh juga mengingatkan kita:
“Dan ingatlah akan nikmat Alloh ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh lalu menjinakkan hatimu kemudian jadilah kamu karena nikmat Alloh orang-orang yang bersaudara. Dan kamu (waktu itu) telah berada di tepi jurang neraka, lalu Aku selamatkan kamu darinya.”(Ali Imron:103).

Ada banyak perumpamaan yang Alloh berikan kepada orang-orang yang menyimpang, ada yang disebut dengan babi dan kera (Al Maidah:60), keledai sebagal simbol dari kebodohan (Al Jum’ah:5), anjing (Al A’raf:176), dll. Demikianlah Alloh menegaskan amat kerasnya terhadap aturanNya yang disampaikan oIeh Rasul. Hanya dengan kembali mengikuti ajaran yang di bawa Rasululloh itu, manusia akan mendapatkan derajat yang mulia sebagai manusia (Insaniyatul lnsan). Begitu manusia mendustakan Rasul, maka
kehinaan menimpa mereka, dan kerusakan yang besar akan terjadi di peradannya sendiri.

SUDAH MERASA CINTA ROSUL?
Kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam adalah perintah agama. Tetapi untuk mengekspresikan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam tidak boleh kita lakukan menurut selera dan hawa nafsu kita sendiri. Sebab jika cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam itu kita ekspresikan secara serampangan dan tanpa mengindahkan syari'at agama maka bukannya pahala yang kita terima, tetapi malahan dapat menuai dosa.

Dari Anas radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasalam, bahwasanya beliau shallallahu alaihi wasalam bersabda: "Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia." (Muttafaq Alaih)

Dengan mengacu pada hadits shahih di atas, dapat kita ambil poin-poin berikut ini: Kewajiban cinta kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam, kenapa harus cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam? Apa tanda-tanda cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam?

Pertama, Kewajiban Cinta Rasul SAW
Hadits shahih di atas adalah dalil tentang wajibnya mencintai Nabi shallallahu alaihi wasalam dengan kualitas cinta tertinggi. Yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan meskipun terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita, seperti anak-anak dan ibu bapak kita. Bahkan cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri kita sendiri.

Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan, Umar bin Khathab radhiallahu anhu berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam : "Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri." Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, 'Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri'. Maka Umar berkata kepada beliau, 'Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.' Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar."

Karena itu, barangsiapa yang kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam belum sampai pada tingkat ini maka belumlah sempurna imannya, dan ia belum bisa merasakan manisnya iman hakiki sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas radhiallahu anhu , dari Nabi shallallahu alaihi wasalam , beliau bersabda:
"Ada tiga perkara yang bila seseorang memilikinya, niscaya akan merasakan manisnya iman, 'Yaitu, kecintaannya pada Allah dan RasulNya lebih dari cintanya kepada selain keduanya......"
Kedua, Mengapa kita harus mencintai Rasul shallallahu alaihi wasalam?
Tidak akan mencapai derajat kecintaan kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam secara sempurna kecuali orang yang mengagungkan urusan din (agama)nya, yang keinginan utamanya adalah merealisasikan tujuan hidup, yakni beribadah kepada Allah Ta'ala. Dan selalu mengutamakan akhirat daripada dunia dan perhiasannya.
Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam inilah dengan izin Allah menjadi sebab bagi kita mendapatkan hidayah (petunjuk) kepada agama yang lurus. Karena cinta Rasul pula, Allah menyelamatkan kita dari Neraka, serta dengan mengikuti beliau shallallahu alaihi wasalam, kita akan mendapatkan keselamatan dan kemenangan di akhirat.

Adapun cinta keluarga, isteri dan anak-anak maka ini adalah jenis cinta duniawi. Sebab cinta itu lahir karena mereka memperoleh kasih sayang dan manfaat materi. Cinta itu akan sirna dengan sendirinya saat datangnya Hari Kiamat. Yakni hari di mana setiap orang berlari dari saudara, ibu, bapak, isteri dan anak-anaknya karena sibuk dengan urusannya sendiri. Dan barangsiapa lebih mengagungkan cinta dan hawa nafsunya kepada isteri, anak-anak dan harta benda duniawi maka cintanya ini akan bisa mengalahkan kecintaannya kepada para ahli agama, utamanya Rasul shallallahu alaihi wasalam .

Ketiga, tanda-tanda Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam
Cinta Nabi shallallahu alaihi wasalam tidaklah berupa kecenderungan sentimentil dan romantisme pada saat-saat khusus, misalnya dengan peringatan-peringatan tertentu. Cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin dan senantiasa terpatri di hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal shalih dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.
Adapun tanda-tanda cinta sejati kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam adalah:
a. Menaati beliau shallallahu alaihi wasalam dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Pecinta sejati Rasul shallallahu alaihi wasalam manakala mendengar Nabi shallallahu alaihi wasalam memerintahkan sesuatu akan segera menunaikannya. Ia tak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya. Ia juga tidak akan mendahulukan ketaatannya kepada isteri, anak, orang tua atau adat kaumnya. Sebab kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam lebih dari segala-galanya. Dan memang, pecinta sejati akan patuh kepada yang dicintainya.

Adapun orang yang dengan mudah-nya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Nabi shallallahu alaihi wasalam serta menerjang berbagai kemungkaran maka pada dasarnya dia jauh lebih mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat lima waktu, padahal Nabi shallallahu alaihi wasalam sangat mengagungkan perkara shalat, hingga ia diwasiatkan pada detik-detik akhir sakaratul mautnya. Dan orang jenis ini, akan dengan ringan pula melakukan berbagai larangan agama lainnya. Na'udzubillah min dzalik.

b. Menolong dan mengagungkan beliau shallallahu alaihi wasalam. Dan ini telah dilakukan oleh para sahabat sesudah beliau wafat. Yakni dengan menyosialisasikan, menyebarkan dan mengagungkan sunnah-sunnahnya di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun tantangan dan resiko yang dihadapinya.

c. Tidak menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali melalui beliau shallallahu alaihi wasalam, rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatu pun dari sunnah-nya . Adapun selain beliau, hingga para ulama dan shalihin maka mereka adalah pengikut Nabi shallallahu alaihi wasalam.Tidak seorang pun dari mereka boleh diterima perintah atau larangannya kecuali berdasarkan apa yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasalam .

d. Mengikuti beliau shallallahu alaihi wasalam dalam segala halnya. Dalam hal shalat, wudhu, makan, tidur dsb. Juga berakhlak dengan akhlak beliau shallallahu alaihi wasalam dalam kasih sayangnya, rendah hatinya, kedermawanannya, kesabaran dan zuhudnya dsb.

e. Memperbanyak mengingat dan shalawat atas beliau shallallahu alaihi wasalam . Dalam hal shalawat Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda:
"Barangsiapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali." (HR. Muslim).

f. Mencintai orang-orang yang dicintai Nabi shallallahu alaihi wasalam. Seperti Abu Bakar, Umar, Aisyah, Ali radhiallahu anhum dan segenap orang-orang yang disebutkan hadits bahwa beliau shallallahu alaihi wasalam mencintai mereka. Kita harus mencintai orang yang dicintai beliau dan membenci orang yang dibenci beliau shallallahu alaihi wasalam . Lebih dari itu, hendaknya kita mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi, termasuk ucapan, perbuatan dan sesuatu lainnya.

Apa Kata Mereka?
“Pilihan saya pada Muhammad untuk diletakkan pada peringkat diatas dari urutan orang-orang yang berpengaruh didunia boleh jadi mengejutkan sebagian pembaca dan membuat oranglain bertanya-tanya. tetapi ia adalah satu satunya manusia dalam sejarah yang meraih sukses yang begitu tinggi, baik dalam bidang agama maupun dalam bidang keduniaan.
( Michael H. Hart, The 100: A Rangking of the Most influential Persons in History)

Nabi Muhammad ketika saat haji Wada’, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?” Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, “Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?” Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “benar ya Rasul!”
Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!”. Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di kesempatan kali ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah.”Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah”